Saturday, June 29, 2013

Realitas Baru Bandara Changi: Beradaptasi dengan Asap

Realitas Baru Bandara Changi: Beradaptasi dengan Asap


SINGAPURA - Kabut asap yang menyelimuti Singapura dalam dua pekan terakhir merupakan suatu realitas baru di Bandara Changi. Bandara yang baru dinobatkan Skytrax sebagai bandara terbaik di dunia itu mau tidak mau harus beradaptasi dengan “teman baru” ini.

Ketika indeks polutan menyentuh level 300 minggu lalu, petugas Air Traffic Controller (ATP) harus membuka mata mereka sejeli mungkin. Petugas juga harus berkomunikasi sejelas mungkin untuk memastikan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Jarak pandang relatif sangat terganggu di sejumlah landasan. Proses take off dan pendaratan harus dilakukan dengan super hati-hati.

Sampai saat ini, petugas ATC memutuskan untuk memperpanjang jarak take off dan pendaratan antara satu pesawat dan pesawat lain. Akibatnya, penumpang harus menunggu lebih lama.

Proses take off yang umumnya sangat cepat berubah menjadi sangat lama. Ada sekitar 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk terbang setelah pintu pesawat resmi ditutup.

Kabut terlihat di mana-mana. Enam hingga tujuh pesawat terlihat antre untuk mendapatkan izin take off. Lampu landasan juga telah dibuka di siang hari untuk meningkatkan jarak pandang para pilot.

"Ini merupakan penyesuaian yang tidak dapat dielakkan lagi. Keselamatan penumpang merupakan prioritas nomor satu kami," kata Menteri Transportasi Lui Tuck Yew. Kabut asap merupakan momok bagi penerbangan. Tragedi Garuda Indonesia 152 yang jatuh di Desa Pancur Batu, Sumatera Utara, 16 tahun lalu masih teringat dengan jelas. Pesawat tujuan Medan itu mengalami kecelakaan disebabkan oleh kabut asap tebal yang menutupi kota Medan. 




Sumber

No comments:

Post a Comment